Samakah Siwak Dengan Sikat Gigi?

Siwak (gosok gigi) itu bukan terbatas pada (menggunakan) ranting pohon arok (kayu siwak) sebagaimana dipahami oleh sebagian orang, bahkan (sebenarnya) siwak adalah sebuah istilah bagi  aktifitas gosok gigi dan membersihkannya dengan alat apapun  juga, mencakup ranting apapun juga yang bisa digunakan untuk membersihkan gigi. Ahli bahasapun tidak membatasi siwak dengan ranting pohon arok (kayu siwak).

Pertanyaan:

Jika seseorang berwudhu` dan tidak mendapatkan siwak, apakah pasta gigi bisa menggantikannya? Apakah bisa pelakunya mendapatkan pahala perbuatan tersebut?

Jawaban

Alhamdulillah.

Permasalahan pertama: Bersiwak adalah salah satu sunnah Nabi
Siwak (gosok gigi) adalah salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang keutamaan dan dorongan untuk melakukannya terdapat dalam beberapa hadits yang banyak jumlahnya. Adapun penjelasan tentang sebagian hukum-hukumnya telah dijelaskan di dalam jawaban dari pertanyaan no. 2577.

Penjelasan keutamaan gosok gigi (siwak) dan dorongan untuk melakukannya yang terdapat dalam beberapa hadits (sebenarnya) mencakup setiap alat yang bisa digunakan untuk membersihkan gigi, jika memang dengan alat tersebut tercapai tujuan (kebersihan gigi) dan dilakukan dengan niat melaksanakan sunnah siwak (gosok gigi).

Aktifitas menggosok gigi tersebut bisa dilakukan, baik dengan menggunakan ranting pohon al-arok (kayu siwak), ranting pohon zaitun, ranting pohon kurma maupun selainnya, termasuk pula sikat gigi yang dapat digunakan untuk menggosok dan membersihkan gigi.

Bahkan sikat gigi, bisa membersihkan bagian dalam gigi dengan mudah dan ringan, dilengkapi dengan zat pembersih gigi (pasta gigi).

Mengapa sikat gigi sama utamanya dengan bersiwak?

Beberapa perkara berikut ini menunjukkan bahwa (penggunaan) sikat gigi (juga) memiliki keutamaan (siwak):

Fatwa Syaikh Muhammad Sholeh Al-Munajjid hafizhahullah

1. Makna siwak
Bahwa kalimat “siwak” secara bahasa, pada asalnya diperuntukkan untuk aktifitas menggosok gigi, tanpa memperhatikan jenis alat yang digunakan untuk menggosok gigi. Lalu disebutlah alat yang dipakai untuk gosok gigi dengan sebutan “siwak” sedangkan secara adat kata “siwak” lebih banyak digunakan untuk menyebut “ranting pohon al-arok (yang dikenal dengan kayu siwak, pent.)”.

Berikut ini beberapa keterangan ulama tentang makna siwak

Berkata Az-Zubaidi:

ساكَ الشَّيءَ يَسُوكُه سَوْكًا : دَلَكَه ، ومِنْهُ أُخِذَ المِسواكُ

“Saaka asy-syai`a yasuukuhu saukan maknanya yaitu mengosok sesuatu. Darinya diambil kata “miswak” (alat untuk gosok gigi)” (Taajul Aruus: 27/215).

Ibnu Daqiq Al-‘Id menyatakan bahwa, siwak adalah suatu istilah yang disebutkan untuk menunjukkan makna perbuatan, bentuk katanya (dalam bahasa Arab) adalah isim mashdar. Di antara dalilnya adalah hadits:

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak itu membersihkan mulut dan menyebabkan (didapatkannya) keridhoan Ar-Rabb (Allah)” 1.

Para ulama ahli fikih pun mengatakan bahwa siwak hukumnya sunnah dan tidak wajib, serta pernyataan-pernyataan selain itu yang tidak mungkin disifati dengannya kecuali sebuah perbuatan. Di samping itu kata “siwak” (juga bisa) dimaksudkan untuk makna alat yang digunakan untuk menggosok gigi (Syarhul Ilmam:1/10).

Berkata Ibnul Atsir:

“والْمِسْوَاكُ: مَا تُدْلَكُ بِهِ الأسْناَن مِنَ العِيدانِ ، يُقَالُ سَاكَ فَاه يَسُوكُهُ : إِذَا دَلَكه بالسِّواك”

Al-Miswak adalah alat yang digunakan untuk menggosok gigi berupa ranting (misalnya, pent.). Seseorang itu dikatakan saaka faahu yasuukuhu jika ia menggosok giginya dengan siwak (An-Nihayah fi gharibil Hadits wal Atsar: 2/425).

Berkata Imam An-Nawawi:

السِّوَاك: هُوَ اسْتِعْمَال عود، أَو نَحوه، فِي الْأَسْنَان لإِزَالَة الْوَسخ، وَهُوَ من ساك، إِذا دلك، وَقيل من التساوك، وَهُوَ التمايل

Siwak adalah penggunaan sebuah ranting pohon atau semisalnya pada gigi untuk menghilangkan kotoran. Kata ini berasal dari kata“ saaka” jika dia menggosok (gigi). Ada pula yang mengatakan “Diambil dari kata “At-Tasaawuk” yaitu At-Tamaayul.” (Tahriru Alfaazhit Tanbih, hal. 33).

Maka (kesimpulannya):

Siwak (gosok gigi) itu bukan terbatas pada (menggunakan) ranting pohon arok (kayu siwak) sebagaimana dipahami oleh sebagian orang, bahkan (sebenarnya) siwak adalah sebuah istilah bagi  aktifitas gosok gigi dan membersihkannya dengan alat apapun  juga, mencakup ranting apapun juga yang bisa digunakan untuk membersihkan gigi. Ahli bahasapun tidak membatasi siwak dengan ranting pohon arok (kayu siwak).

2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menggunakan ranting pohon Al-Arok (kayu siwak) saja
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi diri  dalam menggosok gigi dengan menggunakan ranting pohon Al–Arok (kayu siwak) saja. Selain menggunakan ranting pohon Al–Arok  beliau juga menggunakan ranting pohon yang lainnya. Di antara dalil yang menyebutkan bahwa beliau menggosok gigi dengan ranting pohon Al–Arok (kayu siwak) adalah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata:

كُنْتُ أَجْتَنِي لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِوَاكًا مِنَ الْأَرَاكِ…

“Saya dulu pernah mengambilkan kayu siwak dari pohon Al-Arok  untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…” (HR. Ahmad (3991), Abu Ya’la Al-Mushili dalam musnadnya (9/209) dan ini adalah lafadz beliau. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga menggosok gigi dengan ranting dari pohon kurma (Adapun dalilnya adalah riwayat) dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata

” تُوُفِّيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِي ، وَفِي يَوْمِي ، وَبَيْنَ سَحْرِي وَنَحْرِي، وَكَانَتْ إِحْدَانَا تُعَوِّذُهُ بِدُعَاءٍ إِذَا مَرِضَ ، فَذَهَبْتُ أُعَوِّذُهُ ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ ، وَقَالَ: (فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى ، فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى). وَمَرَّ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ وَفِي يَدِهِ جَرِيدَةٌ رَطْبَةٌ ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَظَنَنْتُ أَنَّ لَهُ بِهَا حَاجَةً ، فَأَخَذْتُهَا، فَمَضَغْتُ رَأْسَهَا، وَنَفَضْتُهَا، فَدَفَعْتُهَا إِلَيْهِ، فَاسْتَنَّ بِهَا كَأَحْسَنِ مَا كَانَ مُسْتَنًّا ، ثُمَّ نَاوَلَنِيهَا، فَسَقَطَتْ يَدُهُ، أَوْ: سَقَطَتْ مِنْ يَدِهِ ، فَجَمَعَ اللَّهُ بَيْنَ رِيقِي وَرِيقِهِ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنَ الدُّنْيَا، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الآخِرَةِ “

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat di rumahku, pada hari giliran yang menjadi jatahku dan (kepala beliau bersandar) di antara dada dan leherku.”

Salah seorang dari kami dahulu terbiasa membacakan do’a kepada beliau ketika beliau sakit. Lalu aku pun mendoakannya. Kemudian beliau mengangkat kepala (pandangan)nya ke atas dan mengucapkan,

فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى ، فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى

“Ya Allah, jadikanlah aku bersama dengan golongan teman-teman yang terbaik di Surga yang tertinggi, Ya Allah, jadikanlah aku bersama dengan golongan teman-teman yang terbaik di Surga yang tertinggi“.

Lalu Abdurrahman bin Abu Bakr masuk sedangkan di tangannya ada ranting kayu siwak dari pohon kurma yang masih basah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallampun menatapnya, saya menyangka beliau membutuhkan siwak tersebut.

Maka aku mengambilnya, mengunyah ujungnya dan mengibas-ngibaskannya, kemudian akupun menyerahkannya kepada beliau. Kemudian beliau menggosok gigi menggunakan ranting tersebut, dengan sebaik-baik cara bersiwak yang pernah beliau lakukan.

Setelah itu beliau memberikannya kepadaku, namun tangannya terjatuh atau ranting kayu siwak dari pohon kurma tersebut jatuh dari tangannya.

Maka Allah mengumpulkan antara air liurku dengan air liur beliau pada hari-hari terakhir beliau di Dunia dan pada hari-hari pertama di Akhirat kelak” (HR. Al-Bukhari no. 4451).

“Jaridah adalah ranting pohon kurma“. (Thalabuth Thalabah, hal. 161).

Berkata Al-Fayumi: “Jarid adalah ranting pohon kurma. Kata tunggalnya adalah jaridah. Dinamakan dengan jaridah (artinya: sesuatu yang dihilangkan, pent.) jika dihilangkan darinya daun yang melekat padanya (Al-Mishbah Al-Munir: 1/96).

3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membatasi bersiwak dengan ranting kayu tertentu kepada para Sahabat radhiyallahu ‘anhum
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memerintahkan siwak (gosok gigi), tidaklah pernah membatasi dengan ranting kayu tertentu kepada para Sahabat radhiyallahu ‘anhum untuk diambil (sebagai sikat gigi) darinya. Dahulu bangsa Arab menggosok gigi dengan berbagai macam ranting (untuk sikat gigi).

Disebutkan dalam Al-Bayan wat Tabayyun karya Syaikh Al-Jahizh (3/77) :

قضبان المساويك : البشام، والضّرو، والعُتم والأراك، والعرجون، والجريد، والإسحل (وكلها أسماء أشجار معروفة عند العرب).

“Ranting-ranting kayu untuk gosok gigi (contohnya) Al-Basyam, Adh-dhorwu, Al-Utumu, Al-Arok, Al-‘Urjun, Al-Jarid, dan Al-Ishal” (Semuanya adalah nama-nama pohon yang dikenal oleh bangsa Arab) (Lihat pula: Musykilat Muwaththa` Malik bin Anas karya Al-Bathliyusi, hal. 72).

Ibnu Abdil Barr menyatakan:

وَكَانَ سِوَاكُ الْقَوْمِ: الْأَرَاكَ ، وَالْبَشَامَ ، وَكُلَّ مَا يَجْلُو الْأَسْنَانَ وَلَا يُؤْذِيهَا وَيُطَيِّبُ نَكْهَةَ الفم: فجائز الاستنان به

Dahulu ranting kayu untuk gosok gigi bagi kaum (bangsa Arab) adalah  Al-Arok,  Al-Basyam dan segala sesuatu yang bisa membersihkan gigi, tidak menyakitinya, bahkan mengharumkan bau mulut, maka semua itu boleh dipakai untuk menggosok gigi. (Al-Istidzkar: 1/365).

4. Para Ahli Fikih tidak pernah membatasi bersiwak dengan ranting kayu tertentu dalam membahas fikih tentang siwak di kitab-kitab mereka
Para Ahli Fikih tidak pernah membatasi hukum bersiwak dengan ranting kayu al-arok, bahkan mereka menyebutkan bahwa bersiwak bisa terwujud dengan segala sesuatu yang bisa digunakan untuk membersihkan mulut (gigi), baik berupa ranting yang kaku (bukan lembek) dan yang semisalnya. Ibnu Abdil Barr menuturkan:

وَالسِّوَاكُ الْمَنْدُوبُ إِلَيْهِ : هُوَ الْمَعْرُوفُ عِنْدَ الْعَرَبِ ، وَفِي عَصْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَكَذَلِكَ الْأَرَاكُ وَالْبَشَامُ ، وَكُلُّ مَا يَجْلُو الْأَسْنَانَ.

(Ranting kayu) siwak yang disunnahkan adalah (ranting kayu) yang dikenal di kalangan bangsa Arab dan dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula (ranting kayu) Al-Arok, Al-Basyam dan segala sesuatu yang bisa membersihkan gigi (At-Tamhid (7/201)).

Beliau juga berkata:

وَكُلُّ مَا جَلَا الْأَسْنَانَ ، وَلَمْ يُؤْذِهَا ، وَلَا كَانَ مِنْ زِينَةِ النِّسَاءِ : فَجَائِزٌ الِاسْتِنَانُ بِهِ

Segala sesuatu yang bisa membersihkan gigi dan tidak menyakitinya, maka boleh dipakai untuk menggosok gigi (At-Tamhid 11:213).

An-Nawawi mengatakan:

” وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَسْتَاكَ بِعُودٍ من أراك، وبأي شئ اسْتَاكَ، مِمَّا يُزِيلُ التَّغَيُّرَ: حَصَلَ السِّوَاكُ ، كَالْخِرْقَةِ الْخَشِنَةِ، وَالسَّعْدِ، وَالْأُشْنَانِ “

Disunnahkan bersiwak dengan ranting dari pohon Al-Arok dan dengan segala sesuatu yang bisa digunakan untuk bersiwak berupa sesuatu yang bisa menghilangkan perubahan (bau mulut), maka (hakekatnya dengan itu) sudah diperoleh sunnah bersiwak. (Alat yang bisa digunakan bersiwak tersebut) misalnya secarik kain yang kasar, ranting tumbuhan As-Sa’du dan Al-Asynan (Syarhu Shahih Muslim (3/143)).

Al-‘Iraqi menyatakan:

وَأَصْلُ السُّنَّةِ تَتَأَدَّى بِكُلِّ خَشِنٍ يَصْلُحُ لِإِزَالَةِ الْقَلَحِ [أي صفرة الأسنان].

Pada asalnya Sunnah (dalam masalah bersiwak) adalah bisa terlaksana dengan segala benda kaku yang cocok untuk membersihkan kotoran gigi (yaitu kotoran gigi yang biasanya berwarna kuning) (Tharhu At-Tatsrib (2/67)).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bertutur:

” وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ السِّوَاكُ عُودًا لَيِّنًا يُطَيِّبُ الْفَمَ وَلَا يَضُرُّهُ ، وَلَا يَتَفَتَّتُ فِيهِ ، كَالْأَرَاكِ وَالزَّيْتُونِ وَالْعُرْجُونِ “

Disunnahkan alat untuk bersiwak (gosok gigi) berupa ranting lembut yang mengharumkan bau mulut (membersihkannya) dan tidak membahayakannya serta tidak mudah terlepas (serabutnya), seperti kayu Al-Arok, Az-Zaitun dan Al-‘Urjun (Syarhu Umdatul Fiqhi: 1/221).

Berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin:

ويحصل الفضل بعود الأراك، أو بغيره من كل عود يشابهه

Keutamaan bersiwak bisa didapatkan dengan menggunakan ranting kayu Al-Arok (kaya siwak) atau dengan selainnya dari setiap ranting yang semisalnya (Syarhu Riyadhish Shalihin: 5/226).

Dan tidak ada seorangpun dari ulama -sebatas yang kami ketahui- yang mengatakan bahwa bersiwak itu hanya dengan ranting kayu Al-Arok (kayu siwak) saja, bahkan pernyataan-pernyataan mereka itu cukup banyak yang menunjukkan bahwa bersiwak itu bisa dilakukan dengan menggunakan selain ranting kayu selain Al-Arok (kayu siwak) juga, yang dengannya bisa tercapai maksud (kebersihan gigi).

5. Bersiwak adalah ibadah yang terkait dengan alasan (tujuan), sehingga bisa terlaksana dengan setiap alat yang mubah dan cocok untuk mencapai tujuan tersebut
Bahwa bersiwak bukanlah tergolong kedalam jenis ibadah yang murni, akan tetapi bersiwak adalah jenis ibadah yang bisa dipahami maknanya (alasan disyari’atkannya).

Maksud disyari’atkannya bersiwak adalah untuk membersihkan gigi dan mengharumkan bau mulut, sedangkan ini terealisasi dengan setiap alat (mubah) yang bisa digunakan untuk mencapai maksud tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bertutur:

” وَلِأَنَّ السِّوَاكَ إِنَّمَا شُرِعَ لِتَطْيِيبِ الْفَمِ وَتَطْهِيرِهِ وَتَنْظِيفِهِ “

Karena siwak disyari’atkan untuk mengharumkan (bau)mulut, membersihkan dan mengeluarkan kotorannya. [Syarhu Umdatul Fiqhi :1/218].

Dengan penjelasan di atas, nampak jelas bahwa:

Keutamaan yang dijanjikan dalam dalil-dalil Syari’at tentang bersiwak (pada asalnya) adalah terkait dengan aktifitas bersiwaknya (membersihkan gigi) dan bukanlah terkait dengan alat untuk bersiwaknya. Maka keutamaan tersebut (pada asalnya) bukan terkait dengan ranting pohon Al-Arok (kayu siwak)nya, namun keutamaan itu  terkait dengan aktifitas membersihkan mulut dan gigi.

Disebutkan dalam ‘Aunul Ma’bud (1/46):

” وَهُوَ يُطْلَقُ عَلَى : الفعل والآلة ، والأول هو المراد ها هنا “

Kata tersebut (Siwak) diperuntukkan untuk menunjukkan makna perbuatan dan alat sekaligus, sedangkan untuk makna yang pertama (perbuatan) itulah yang dimaksud di sini.

(Maksud dari perkataan “di sini”) yaitu:  di dalam hadits-hadits tentang keutamaan bersiwak dan dorongannya.

Syaikh  Ibnu ‘Utsaimin ditanya: “Apakah menggunakan pasta gigi (dan sikat gigi, pent.) bisa mewakili kayu siwak (ranting pohon Al-Arok)?

Dan apakah orang yang menggunakannya (sikat & pasta gigi) dengan niat membersihkan mulut akan diberi pahala? Maksud (saya): Apakah  sepadan dengan pahala kayu siwak, yang dengan pahala tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyemangati orang yang membersihkan giginya? ”                           

Beliau Rahimahullah Ta’ala menjawab,

” نعم ؛ استعمال الفرشاة والمعجون يغني عن السواك ، بل وأشد منه تنظيفاً وتطهيراً ، فإذا فعله الإنسان حصلت به السنة ؛ لأنه ليس العبرة بالأداة ، العبرة بالفعل والنتيجة ، والفرشاة والمعجون يحصل بها نتيجة أكبر من السواك المجرد .
لكن هل نقول إنه ينبغي استعمال المعجون والفرشاة كلما استحب استعمال السواك ، أو نقول إن هذا من باب الإسراف والتعمق ، ولعله يؤثر على الفم برائحة أو جرح أو ما أشبه ذلك ؟ هذا ينظر فيه ”

Ya benar, menggunakan sikat dan pasta gigi bisa mewakili kayu siwak, bahkan lebih mampu membersihkan dan mengeluarkan kotoran gigi, maka jika seseorang gosok gigi dengan sikat gigi (itu berarti) sudah terlaksana Sunnah (bersiwak) dengannya, karena yang dijadikan patokan bukanlah  alat untuk bersiwaknya, namun yang dijadikan patokan adalah perbuatan dan hasilnya. Sedangkan sikat dan pasta gigi bisa menghasilkan hasil (kebersihan gigi & keharuman bau mulut, pent.) yang lebih maksimal dibandingkan dengan kayu siwak saja.

Akan tetapi apakah bisa kita katakan bahwa penggunaan sikat dan pasta gigi itu sebaiknya ketika setiap kali disunnahkan penggunaan kayu siwak? Atau justru hal ini tergolong melampaui batas dan berlebih-lebihan? (karena) barangkali berdampak  pada mulut, baik berupa bau, luka atau semisalnya? Ini perlu pembahasan (lebih lanjut).

[Fatawa Nur ‘alad-Darb lil ‘Utsaimin :2/7, penomoran maktabah Syamilah].

Permasalahan Kedua: Kayu siwak memiliki keistimewaan tersendiri!
(Meskipun) telah disebutkan bahwa menggosok gigi dengan menggunakan sikat gigi itu sudah termasuk melakukan Sunnah siwak dan mendapatkan pahala  jika diiringi dengan niat ibadah, hanya saja, bersiwak dengan menggunakan ranting pohon Al-Arak (kayu siwak) tetap memiliki keistimewaan (tersendiri), berupa mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

(Keistimewaan tersebut yaitu) bahwa kayu siwak dahulu paling banyak digunakan oleh mereka, ditambah lagi mudah dibawa dan dipindah-pindah di segala tempat dan kondisi. Dan hal itu telah menjadi kebiasaan tanpa ada yang mengingkarinya serta tidaklah hal itu terhitung ‘nyeleneh’.

Lain halnya dengan sikat gigi yang sulit jika digunakan pada setiap saat, karena sikat gigi tersebut membutuhkan tempat tersendiri.

Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (4/140):

” اتَّفَقَ فُقَهَاءُ الْمَذَاهِبِ الأْرْبَعَةِ عَلَى أَنَّ أَفْضَلَهُ جَمِيعًا : الأْرَاكُ ، لِمَا فِيهِ مِنْ طِيبٍ ، وَرِيحٍ ، وَتَشْعِيرٍ يُخْرِجُ وَيُنَقِّي مَا بَيْنَ الأْسْنَانِ ”

Ulama Ahli Fikih dari keempat madzhab sepakat bahwa alat siwak yang paling utama dari seluruh alat siwak yang ada yaitu: ranting pohon Al-Arok, karena didalamnya terdapat kebaikan, keharuman bau dan berserabut yang bisa mengeluarkan dan membersihkan kotoran yang terdapat di sela-sela gigi. 

Ibnu Allan menyatakan:

” وأولاه : الأراك ؛ للاتباع ، مع ما فيه من طيب طعم وريح ، وشعيرة لطيفة تنقي ما بين الأسنان ، ثم بعده النخل ؛ لأنه آخر سواك استاك به صلى الله عليه وسلم”

Yang paling baik adalah ranting pohon Al-Arok (kayu siwak) karena mengikuti (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), diiringi dengan kesegaran rasa dan keharuman bau serta serabut yang lembut membersihkan kotoran yang terdapat di sela-sela gigi, kemudian (urutan yang berikutnya adalah) ranting pohon kurma, sebab ranting pohon kurma tersebut adalah ranting siwak yang terakhir kali dipakai bersiwak oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Dalilul Falihin (6/658)].

Berkata Syaikh Athiyyah Muhammad Salim:

” إذا نظرنا إلى الغرض من استعمال السواك ، وهو كما في الحديث : ( مطهرة للفم مرضاة للرب ) فأي شيء طهَّر الفم فإنه يؤدي المهمة ، ولكن ما كان عليه السلف فهو أولى وأصح طبياً ”

“Jika kita perhatikan tujuan penggunaan kayu siwak, yaitu sebagaimana disebutkan dalam hadits :

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak adalah membersihkan mulut dan menyebabkan (didapatkannya) keridhoan Ar-Rabb (Allah)” , maka dengan alat (mubah) apapun yang bisa membersihkan mulut, itu berarti telah memenuhi tujuan tersebut, namun perkara yang menjadi Sunnah Salafush Sholeh itu lebih utama dan lebih bagus secara medis”.

[Syarhu Bulughil Maram (5/13), dengan penomoran maktabah Syamilah].

Untuk penjelasan tambahan, silahkan baca jawaban pertanyaan no. 115282, di dalamnya terdapat beberapa faedah yang bermanfa’at tentang ranting pohon Al-Arok (kayu siwak). Wallahu a’lam.

Foto Wanita Muslimah

“Sesungguhnya wanita itu (Zulaikha) telah bermaksud (melakukan perbuatan zina) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukannya pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (QS. Yusuf: 24).



Wanita adalah fitnah (godaan) yang terbesar bagi kaum laki-laki. Ini adalah perkara yang telah dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta diakui oleh semua orang yang berakal sehat dan memahami realita kehidupan. Bahwa godaan terbesar bagi laki-laki adalah wanita. Allah Ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Al Imran: 14).

Allah Ta’ala juga berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 30-31).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ

“Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) terhadap wanita” (HR. Al Bukhari 5096, Muslim 2740).

Maka wajib mengusahakan segala upaya agar lelaki tidak terfitnah oleh wanita. Maka syariat Islam yang mulia pun pun melarang berbagai perkara yang bisa menyebabkan lelaki terfitnah oleh wanita. Dilarang bersentuhan kulit terhadap lawan jenis yang bukan mahram, dilarang khulwah (berdua-duaan), lelaki dilarang memandang wanita yang bukan mahram, wanita dilarang melembutkan suara ketika berbicara dan lainnya. Semua ini agar wanita tidak menyebabkan fitnah pada lelaki. Fitnah di sini artinya membuat kerusakan pada agama para lelaki.

Diantara yang menyebabkan fitnah di zaman ini adalah fitnah foto wanita di internet. Ketika seorang wanita meng-upload fotonya di internet, maka foto tersebut bisa memfitnah para lelaki yang melihatnya. Oleh karena itu Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan mengatakan:

تصوير النساء لا يجوز مطلقاً لما في ذلك من الفتن والشرور التي ترتب عليه زيادة على تحريم التصوير في حد ذاته ، فلا يجوز تصوير النساء للسفر ولا لغيره ، وقد صدر عن هيئة كبار العلماء قرار بتحريم ذلك

“Memfoto wanita itu tidak boleh secara mutlak, karena di dalamnya terdapat fitnah dan keburukan yang menambah dosa dari haramnya tashwir (gambar makhluk hidup). Maka tidak boleh memfoto wanita untuk dibawa safar atau pun untuk lainnya. Dan Haiah Kibaril Ulama telah mengeluarkan ketetapan akan haramnya hal ini”

Namun sebagian wanita Muslimah salah kaprah terhadap larangan meng-upload foto, sehingga mereka beranggapan:
* Tidak apa-apa upload foto, jika berfoto bersama suami
* Tidak apa-apa upload foto, jika berfoto bersama keluarga
* Tidak apa-apa upload foto, jika berfoto bersama teman-teman
* Tidak apa-apa upload foto, jika ketika berfoto menggunakan jilbab
* Tidak apa-apa upload foto, jika maksudnya untuk berjualan jilbab yang dipakainya

Dan semacamnya.

Padahal dalam keadaan-keadaan tersebut di atas, faktor “dapat menimbulkan fitnah” tetap ada. Sehingga illah (alasan) pelarangan tersebut masih ada. Kaidah fikih mengatakan:

الحكم يدور مع علته وجودا أو عدما

“Hukum itu mengikuti illah-nya, kalau illah-nya ada maka hukumnya ada, kalau illah-nya tidak ada maka tidak ada”.

Maka selama foto wanita itu bisa beresiko menyebabkan fitnah, terlarang untuk meng-upload-nya.

Wanita yang berfoto bersama suaminya apakah tidak mungkin menimbulkan fitnah kepada lelaki lain? Tentu saja sangat mungkin. Bukankah Zulaikha ketika membuat Nabi Yusuf ‘alaihissalam tergoda ketika itu sudah bersuami? Namun Allah beri hidayah kepada Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari zina. Allah sebutkan kisahnya dalam Al Qur’an:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَنْ رَأى بُرْهَانَ رَبِّهِ ‏كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

“Sesungguhnya wanita itu (Zulaikha) telah bermaksud (melakukan perbuatan zina) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukannya pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (QS. Yusuf: 24).

Dan betapa banyak lelaki yang kasmaran kepada istri orang lain walaupun tahu wanita tersebut sudah bersuami?! Allahul musta’an.

Wanita yang berfoto dalam keadaan memakai jilbab apakah tidak mungkin menimbulkan fitnah? Tentu saja sangat mungkin. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika bersabda:

ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ

“Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) terhadap wanita” (HR. Al Bukhari 5096, Muslim 2740).

Apakah ketika itu para Muslimah mayoritasnya membuka aurat? Justru ketika itu mereka menutup aurat mereka dengan sempurna, namun Nabi katakan bahwa mereka adalah fitnah terbesar. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

المرأة عورة ، فإذا خرجت استشرفها الشيطان

“Wanita adalah aurat. Jika ia keluar, setan memperindahnya” (HR. At Tirmidzi no. 1173, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Maka walaupun seorang wanita memakai jilbab, setan akan membuatnya nampak indah dan menggiurkan di mata para lelaki.

Demikian juga, apakah karena berjualan jilbab menjadikan seseorang boleh membuka pintu fitnah bagi para lelaki? Apakah demi berjualan boleh menghalalkan segala cara? Tentu saja tidak. Tidak terlarang berjualan jilbab, bahkan ini baik jika diniatkan untuk menyediakan jilbab bagi para Muslimah yang ingin berhijab. Namun tentu tidak menggunakan cara-cara yang melanggar syariat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا تكونوا عون الشيطان على أخيكم

“Janganlah kalian menjadi penolong setan untuk menggoda saudara kalian” (HR. Bukhari no.6781).

Maka kami menasehatkan kepada kaum Muslimin secara umum, khususnya kepada para wanita Muslimah untuk menghapus foto-foto mereka dari dunia maya, agar tidak menjadi dosa jariyah bagi mereka karena telah menimbulkan fitnah bagi para lelaki.

Semoga Allah memberi hidayah kepada kami dan para akhawat fillah, semoga kita istiqamah dan kelak bertemu di-Jannah-Nya.

Kosakata Bahasa Arab Populer

Dari 3 pembagian kata yang ada dalam bahasa Arab, hanya 2 jenis yang saya pilih, yaitu kata benda dan kata kerja. Dan kosakata ini merupakan kosakata populer, supaya mudah diterapkan dalam obrolan keseharian Anda. Tidak ingin berpanjang lebar, selamat belajar dan membaca.

Isim (Kata Benda):
Hari Ahad ( يَوْمُ الأَحَدِ) yawmul-ahadi.
Hari Senin ( يَوْمُ الإِثْنَيْنِ) yawmul-itsnaini.
Hari Selasa ( يَوْمُ الثُّلَاثَاءِ) yaumuts-tsulaatsaa`i.
Hari Rabu ( يَوْمُ الأَرْبِعَاءِ) yawmul-arbi’aa`i.
Hari Kamis ( يَوْمُ الخَمِيْسِ) yawmul-khamiisi.
Hari Jum’at ( يَوْمُ الجُمُعَةِ) yawmul-jumu’ati.
Hari Sabtu ( يَوْمُ السَّبْتِ) yawmus-sabti.
Warna ( لَوْنٌ جـ أَلْوَانٌ) lawnun jim alwaanun.
Putih ( ُأَبْيَض) abyadhu dan ( ُبَيْضَاء ) baydhaa`u.
Hitam ( ُأَسْوَد ) aswadudan ( ُسَوْدَاء ) sawdaa`u.
Merah ( ُأَحْمَر ) ahmaru dan ( ُحَمْرَاء ) hamraa`u.
Merah muda/pink ( ٌّوَرْدِي ) wardiyyundan ( ٌوَرْدِيَّة ) wardiyyatun.
Biru ( ُأَزْرَق ) azraqu dan ( ُزَرْقَاء ) zarqaa`u.
Hijau ( ُأَخْضَر ) akhdharu dan ( ُخَضْرَاء ) khadhraa`u.
Kuning ( ُأَصْفَر ) ashfarudan ( ُصَفْرَاء ) shafraa`u.
Waktu ( وَقْتٌ جـ أَوْقَاتٌ) waqtun jim awqaatun.
Detik ( ثَانِيَةٌ جـ ثَوَانٍ) tsaaniyatun jim tsawaanin.
Menit ( دَقِيْقَةٌ جـ دَقَائِقُ) daqiiqatun jim daqaa`iqu.
Jam ( سَاعَةٌ جـ سَاعَاتٌ) saa’atun jim saa’aatun.
Hari ( يَوْمٌ جـ أَيَّامٌ) yawmun jim ayyaamun.
Pagi ( صَبَاحٌ ) shabaahun.
Siang ( نَهَارٌ ) nahaarun.
Sore ( مَسَاءٌ ) masaa`un.
Malam ( لَيْلَةٌ ) laylatun.
Pekan ( أُسْبُوْعٌ جـ أَسَابِيْعُ) usbuu`un jim asaabii`u.
Bulan ( شَهْرٌ جـ شُهُوْرٌ) syahrun jim syuhuurun.
Tahun ( سَنَةٌ جـ سَنَوَاتٌ) sanatun jim sanawaatun.
Abad ( قَرْنٌ جـ قُرُوْنٌ) qarnun jim quruunun.
Jam Satu ( السَّاعَةُ الوَاحِدَةُ) as-saa’atul-waahidatu.
Jam Dua ( السَّاعَةُ الثَّانِيَةُ) as-saa’atuts-tsaaniyatu.
Jam Tiga ( السَّاعَةُ الثَّالِثَةُ) as-saa’atuts-tsaalitsatu.
Jam Empat ( السَّاعَةُ الرَّابِعَةُ) as-saa’atur-raabi’atu.
Jam Lima ( السَّاعَةُ الخَامِسَةُ) as-saa’atul-khaamisatu.
Jam Enam ( السَّاعَةُ السَّادِسَةُ) as-saa’atus-saadisatu.
Jam Tujuh ( السَّاعَةُ السَّابِعَةُُ) as-saa’atus-saabi’atu.
Jam Delapan ( السَّاعَةُ الثَّامِنَةُ) as-saa’atuts-tsaaminatu.
Jam Sembilan ( السَّاعَةُ التَّاسِعَةُ) as-saa’atut-taasi’atu.
Jam Sepuluh ( السَّاعَةُ العَاشِرَةُ)as-saa’atul-‘aasyiratu.
Tubuh ( جَسَدٌ جـ أَجْسَادٌ ) jasadun jim ajsaadun.
Kepala ( ٌرَأْسٌ جـ رُؤُوْس) ra`sun jim ru`uusun.
Rambut ( ٌشَعْرَةٌ جـ شَعْر) sya’ratun jim sya’run.
Mata ( ٌعَيْنٌ جـ أَعْيُن) ‘aynun jim a’yunun.
Hidung ( ٌأَنْفٌ جـ أُنُوْف) anfun jim unuufun.
Telinga ( ٌأُذُنٌ جـ آذَان) udzunun jim aadzaanun.
Pipi ( ٌخَدٌّ جـ خُدُوْد) khaddun jim khuduudun.
Mulut ( ٌفَمٌ جـ أَفْوَاه) famun jim afwaahun.
Gigi ( ٌسِنٌّ جـ أَسْنَان) sinnun jim asnaanun.
Lidah ( ٌلِسَانٌ جـ أَلْسِنَة) lisaanun jim alsinatun.
Leher ( ٌعُنُقٌ جـ أَعْنَاق) ‘unuqun jim a’naaqun.
Pundak ( ٌكَتِفٌ جـ أَكْتَاف) katifun jim aktaafun.
Punggung ( ٌظَهْرٌ جـ ظُهُوْر) zhahrun jim zhuhuurun.
Tangan ( ٍيَدٌ جـ أَيْد) yadun jim aydin.
Telapak tangan ( كَفٌ جـ أَكُفٌّ) kaffun jim akuffun.
Dada ( صَدْرٌ جـ صُدُوْرٌ) shadrun jim shuduurun.
Perut ( ٌبَطْنٌ جـ بُطُوْن) bathnun jim buthuunun.
Paha ( ٌفَخِذٌ جـ أَفْخَاذ) fakhidzun jim afkhaadzun.
Betis ( ٌسَاقٌ جـ سُوْق) saaqun jim suuqun.
Telapak kaki ( ٌقَدَمٌ جـ أَقْدَام) qadamun jim aqdaamun.
Kulit ( ٌجِلْدٌ جـ جُلُوْد) jildun jim juluudun.
Keluarga ( ٌأُسْرَةٌ جـ أُسَر).
Kakek ( جَدٌّ جـ أَجْدَادٌ).
Nenek ( ٌجَدَّةٌ جـ جَدَّات).
Ayah ( َأَبٌ جـ آبَاءٌ) / ( وَالِدٌ جـ وَالِدُوْن ).
Ibu ( ٌأُمٌّ جـ أُمَّهَاتٌ) / ( وَالِدَةٌ جـ وَالِدَات ).
Paman dari Ayah ( عَمٌّ جـ أَعْمَامٌ).
Bibi dari Ayah ( ٌعَمَّةٌ جـ عَمَّات).
Paman dari Ibu ( ٌخَالٌ جـ أَخْوَال).
Bibi dari Ibu ( ٌخَالَةٌ جـ خَالاَت).
Saudara ( ٌأَخْ جـ إِخْوَة).
Saudari ( ٌأُخْتٌ جـ أَخَوَات).
Putra ( ٌاِبْنٌ جـ أَبْنَاء).
Putri ( ٌبِنْتٌ جـ بَنَات).
Cucu (lk) ( ٌحَفِيْدٌ جـ أَحْفَاد).
Cucu (pr) ( ٌحَفِيْدَةٌ جـ حَفِيْدَات).
Suami (ٌزَوْجٌ جـ أَزْوَاج ).
Istri ( ٌزَوْجَةٌ جـ زَوْجَات).
Rumah ( بَيْتٌ جـ بُيُوْتٌ) baytun jim buyuutun.
Pondasi ( أَسَاسٌ جـ أُسُسٌ) asaasun jim ususun.
Tembok ( جِدَارٌ جـ جُدُرٌ) jidaarun jim judurun.
Atap ( سَقْفٌ جـ سُقُوْفٌ) saqfun jim suquufun.
Lantai ( بَلَاطَةٌ جـ بَلَاطٌ) balaathatun jim balaathun.
Pintu ( بَابٌ جـ أَبْوَابٌ) baabun jim abwaabun.
Jendela ( نَافِذَةٌ جـ نَوَافِذُ) naafidzatun jim nawaafidzu.
Kamar ( غُرْفَةٌ جـ غُرَفٌ) ghurfatun jim ghurafu.
Dapur ( مَطْبَخٌ جـ مَطَابِخُ) mathbakhun jim mathaabikhu.
Teras (فِنَاءٌ جـ أَفْنِيَةٌ ) finaa`un jim afniyatun.
Halaman ( سَاحَةٌ جـ سَاحَاتٌ) saahatun jim saahaatun.
Pagar ( سُوْرٌ جـ أَسْوَارٌ) suurun jim aswaarun.
Tingkat ( دُوْرٌ جـ أَدْوَارٌ) duurun jim adwaarun.
Tangga ( سُلَّمٌ جـ سَلَالِمُ) sullamun jim salaalimu.
Tiang ( عَمُوْدٌ جـ أَعْمِدَةٌ) ‘amuudun jim a’midatun.
Perabotan ( أَثَاثٌ جـ أَثَاثَاتٌ) astaatsun jim atsaatsaatun.
Meja ( مَكْتَبٌ جـ مَكَاتِبُ) maktabun jim makaatibu.
Kursi ( كُرْسِيٌّ جـ كَرَاسِيُّ) kursiyyun jim karaasiyyu.
Lemari ( خِزَانَةٌ جـ خَزَائِنُ) khizaanatun jim khazaa`inu.
Ranjang ( سَرِيْرٌ جـ سُرُرٌ) sariirun jim sururun.
Kipas ( مِرْوَحَةٌ جـ مَرَاوِحُ) mirwahatun jim maraawihu.
Cermin (مِرْآةٌ جـ مَرَايَا ) mir`aatun jim maraayaa.
Sofa ( أَرِيْكَةٌ جـ أَرَائِكُ) ariikatun jim araa`iku.
Lampu ( مِصْبَاحٌ جـ مَصَابِيْحُ) mishbaahun jim mashaabiihu.
Kunci ( مِفْتَاحٌ جـ مَفَاتِيْحُ) miftaahun jim mafaatiihu.
Sekolah ( مَدْرَسَةٌ جـ مَدَارِسُ) madrasatun jim madaarisu.
Kelas ( فَصْلٌ جـ فُصُوْلٌ) fashlun jim fushuulun.
Perpustakaan ( مَكْتَبَةٌ جـ مَكْتَبَاتٌ) maktabatun jim makatabaatun.
Kantin ( مَقْصَفٌ جـ مَقَاصِفُ) maqshafun jim maqaashifu.
Laboratorium Bahasa ( مَعْمَلٌ اللُّغَةِ) ma’malul-lughati.
Aula ( قَاعَةٌ جـ قَاعَاتٌ) qaa’atun jim qaa’aatun.
Lapangan ( مَلْعَبٌ جـ مَلَاعِبُ) mal’abun jim malaa’ibu.
Seragam ( زِيٌّ جـ أَزْيَاءٌ) ziyyun jim azyaa`un.
Tas ( حَقِيْبَةٌ جـ حَقَائِبُ) haqiibatun jim haqaa`ibu.
Botol minuman ( قَارُوْرَةُ المَاءِ) qaaruuratul-maa`i.
Buku ( كِتَابٌ جـ كُتُبٌ) kitaabun jim kutubun.
Buku tulis ( دَفْتَرٌ جـ دَفَاتِرُ) daftarun jim dafaatiru.
Pena ( قَلَمٌ جـ أَقْلَامٌ) qalamun jim aqlaamun.
Tempat pensil ( مِقْلَمَةٌ جـ مَقَالِمٌ) miqlamatun jim maqaalimu.
Penggaris ( مِسْطَرَةٌ جـ مَسَاطِرُ) mistharatun jim masaathiru.
Rautan ( مِبْرَاةٌ جـ مَبَارٍ) mibraatun jim mabaarin.
Transportasi ( مُوَاصَلَةٌ) muwaashalatun.
Mobil ( ٌسَيَّارَةٌ جـ سَيَّارَات) sayyaaratun jim sayyaaraatun.
Motor ( ٌدَرَّاجَةٌ نَارِيَّة) darraajatun naariyyatun.
Sepeda ( ٌدَرَّاجَةٌ هَوَائِيَّة) darrajatun hawaa`iyyatun.
Pesawat ( ٌطَائِرَةٌ جـ طَائِرَات) thaa`iratun jim thaa`iraatun.
Kapal ( ٌسَفِيْنَةٌ جـ سُفُن) safiinatun jim sufunun.
Kapal Selam ( ٌغَوَّاصَةٌ جـ غَوَّاصَات) ghawaashatun jim ghawwaashaatun.
Perahu ( ُمَرْكَبٌ جـ مَرَاكِب) markabun jim maraakibu.
Kereta ( ٌقِطَارٌ جـ قِطَارَات) qithaarun jim qithaaraatun.
Bus ( ٌحَافِلَةٌ جـ حَافِلَات) haafilatun jim haafilaatun.
Truk ( ٌشَاحِنَةٌ جـ شَاحِنَات) syaahinatun jim syaahinaatun.
Tank ( ٌدَبَّابَةٌ جـ دَبَّابَات) dabbaabatun jim dabaabaatun.
Taksi ( ِسَيَّارَةُ الأُجْرَة) sayyaaratul-ujrati.
Pakaian ( مَلْبَسٌ جـ مَلَابِسُ) malbasun jim malaabisu.
Kemeja ( قَمِيْصٌ جـ قُمْصَانٌ) qamiishun jim qumshaanun.
Jubah ( ثَوْبٌ جـ أَثْوَابٌ) tsawbun jim atswaabun.
Kaos (فَانِلَّةٌ ) faanillatun.
Celana panjang ( بَنْطَلُوْنٌ جـ بَنْطَلُوْنَاتٌ) banthaluunun jim banthaluunaatun.
Daster ( فُسْتَانٌ جـ فَسَاتِيْنُ) fustaanun jim fasaatiinu.
Sarung ( إِزَارٌ جـ آزِرَةٌ) izaarun jim aaziratun.
Kaos kaki ( جَوْرَبٌ جـ جَوَارِبُ) jawrabun jim jawaaribu.
Sarung tangan ( قُفَّازٌ جـ قُفَّازَاتٌ) qufaazun jim qufaazaatun.
Topi ( قُبَّعَةٌ جـ قُبَّعَاتٌ) qubba’atun jim qubba’aatun.
Jaket/Mantel ( مِعْطَفٌ جـ مَعَاطِفُ) mi’thafun jim ma’aathifu.
Sendal (نَعْلٌ جـ نِعَالٌ ) na’lun jim ni’aalun.
Sepatu ( حِذَاءٌ جـ أَحْذِيَةٌ) hidzaa`un jim ahdziyatun.
Tempat ( ٌمَكَانٌ جـ أَمْكِنَة) makaanun jim amkinatun.
Apotek ( ٌصَيْدَلِيَّةٌ جـ صَيْدَلِيَّات) shaydaliyyatun jim shaydaliyyaatun.
Bandara/Airport ( ٌمَطَارٌ جـ مَطَارَات) mathaarun jim mathaaraatun.
Hotel ( ُفُنْدُقٌ جـ فَنَادِق) funduqun jim fanaadiqu.
Kebun Binatang ( ِحَدِيْقَةُ الحَيَوَانَات) hadiiqatul-hayawaanaati.
Masjid ( ُمَسْجِدٌ جـ مَسَاجِد) masjidun jim masaajidu.
Museum ( ُمَتْحَفٌ جـ مَتَاحِف) mathafun jim mataahifu.
Pabrik ( ُمَصْنَعٌ جـ مَصَانِع) mashna’un jim mashaani’u.
Pelabuhan ( ُمِيْنَاءٌ جـ مَوَانِئ) miinaa`un jim mawaani`u.
Pengadilan (ُمَحْكَمَةٌ جـ مَحَاكِم ) mahkamatun jim mahaakimu.
Penjara ( ٌسِجْنٌ جـ سُجُوْن) sijnun jim sujuunun.
Restoran/Rumah Makan ( ُمَطْعَمٌ جـ مَطَاعِم) math’amun jim mathaa’imu.
Rumah Sakit ( ٌمُسْتَشْفَى جـ مُسْتَشْفَيَات) mustasyfaa jim mustasyfayaatun.
Trotoar ( ٌرَصِيْفٌ جـ أَرْصِفَة) rashiifun jim arshifatun.
Universitas ( ٌجَامِعَةٌ جـ جَامِعَات) jaami’atun jim jaami’aatun.
Bumi ( أَرْضٌ جـ أَرَاضٍ ) ardhun jim araadhin.
Langit (سَمَاءٌ جـ سَمَوَاتٌ ) samaa`un jim samawaatun.
Awan ( سَحَابٌ جـ سُحُبٌ) sahaabun jim suhubun.
Hujan ( مَطَرٌ جـ أَمْطَارٌ) matharun jim amthaarun.
Sungai ( نَهْرٌ جـ أَنْهَارٌ) nahrun jim anhaarun.
Air terjun ( شَلَّالٌ جـ شَلَّالَاتٌ) syallaalun jim syallaalaatun.
Laut ( بَحْرٌ جـ بِحَارٌ) bahrun jim bihaarun.
Samudra ( مُحِيْطٌ جـ مُحِيْطَاتٌ) muhiithun jim muhiithaatun.
Selat ( مَضِيْقٌ جـ مَضَايِقُ) madhiiqun jim madhaayiqu.
Benua ( قَارَةٌ جـ قَارَاتٌ) qaaratun jim qaaraatun.
Hutan ( غَابَةٌ جـ غَابَاتٌ) ghaabatun jim ghaabaatun.
Lembah ( وَادٍ جـ أَوْدِيَةٌ) waadin jim awdiyatun.
Gunung ( جَبَلٌ جـ جِبَالٌ) jabalun jim jibaalun.
Teluk ( خَلِيْجٌ جـ خُلْجَانٌ) khaliijun jim khuljaanun.
Semenanjung ( شِبْهُ الجَزِيْرَةِ) syibhul-jaziirati.
Gua ( غَارٌ جـ غِيْرَانٌ) ghaarun jim ghiiraanun.
Padang pasir (صَحْرَاءٌ جـ صَحَارٍ ) sharaa`un jim shahaarin.
Fi’il (Kata Kerja):
Bahagia ( سَعِدَ – يَسْعَدُ) sa’ida – yas’adu.
Bangun tidur ( اِسْتَيْقَظَ – يَسْتَيْقِظُ) istayqadha – yastayqidhu.
Bekerja ( عَمِلَ – يَعْمَلُ) ‘amila – ya’malu.
Belajar ( تَعَلَّمَ – يَتَعَلَّمُ) ta’allama – yata’allamu.
Berargumen ( اِحْتَجَّ – يَحْتَجُ) ihtajja – yahtajju.
Berbeda ( اِخْتَلَفَ – يَخْتَلِفُ) ikhtalafa – yakhtalifu.
Berbicara ( تَكَلَّمَ – يَتَكَلَّمُ) takallama – yatakallamu.
Bercanda ( مَزَحَ – يَمْزَحُ) mazaha – yamzahu.
Bercerita ( قَصَّ – يَقُصُّ) qashsha – yaqushshu.
Berdebat ( جَادَلَ – يُجَادِلُ) jaadala – yujaadilu.
Berdiri ( قَامَ – يَقُوْمُ) qaama – yaqaamu.
Berdiskusi ( تَنَاظَرَ – يَتَنَاظَرُ) tanaazhara – yatanaazharu.
Berdoa ( دَعَا – يَدْعُو) da’aa – yad’uu.
Berdusta ( كَذَبَ – يَكْذِبُ) kadzaba – yakdzibu.
Berenang ( سَبَحَ – يَسْبَحُ) sabaha – yasbahu.
Berhaji ( حَجَّ – يَحُجُّ) hajja – yahujju.
Beribadah ( عَبَدَ – يَعْبُدُ) ‘abada – ya’budu.
Berinfak ( أَنْفَقَ – يُنْفِقُ) anfaqa – yunfiqu.
Berjalan ( سَارَ – يَسِيْرُ) saara – yasiiru.
Berjanji ( وَعَدَ – يَعِدُ) wa’ada – ya’idu.
Berjihad ( جَاهَدَ – يُجَاهِدُ) jaahada – yujaahidu.
Berjumpa ( اِلْتَقَى – يَلْتَقِي) iltaqaa – yaltaqii.
Berkhutbah ( خَطَبَ – يَخْطُبُ) khathaba – yakhtubu.
Berkorban ( ضَحَّى – يُضَحِّي) dhahhaa – yudhahhii.
Berkumpul ( اِجْتَمَعَ – يَجْتَمِعُ) ijtama’a – yajtami’u.
Berkurang ( نَقَصَ – يَنْقُصُ) naqasha – yanqushu.
Berlari ( جَرَى – يَجْرِي) jaraa – yajrii.
Bermain ( لَعِبَ – يَلْعَبُ) la’iba – yal’abu.
Bermaksiat ( عَصَا – يَعْصِي) ‘ashaa – ya’shii.
Bermukim ( أَقَامَ – يُقِيْمُ) aqaama – yuqiimu.
Berpindah ( اِنْتَقَلَ – يَنْتَقِلُ) intaqala – yantaqilu.
Berpisah ( اِفْتَرَقَ – يَفْتَرِقُ) iftaraqa – yaftariqu.
Bersandar ( اِعْتَمَدَ – يَعْتَمِدُ) i’tamada – ya’tamidu.
Bersatu ( اِتَّحَدَ – يَتَّحِدُ) ittahada – yattahidu.
Bersikat gigi ( تَسَوَّكَ – يَتَسَوَّكُ) tasawwaka – yatasawwaku.
Bersujud ( سَجَدَ – يَسْجُدُ) sajada – yasjudu.
Bersungguh-sungguh ( اِجْتَهَدَ – يَجْتَهِدُ) ijtahada – yajtahidu.
Bertambah ( اِزْدَادَ – يَزْدَادُ) izdaada – yazdaadu.
Bertanya ( سَأَلَ – يَسْأَلُ) sa`ala – yas`alu.
Berteriak ( صَرَخَ – يَصْرُخُ) sharakha – yashrukhu.
Berubah ( تَغَيَّرَ – يَتَغَيَّرُ) taghayyara – yataghayyaru.
Berumroh ( اِعْتَمَرَ – يَعْتَمِرُ) i’tamara – ya’tamiru.
Berupaya ( سَعَى – يَسْعَى) sa’aa – yas’aa.
Berusaha ( حَاوَلَ – يُحَاوِلُ) haawala – yuhaawilu.
Berwudhu ( تَوَضَّاَ – يَتَوَضَّأُ) tawadhdha`a – yatawadhdha`u.
Bosan ( مَلَّ – يَمَلُّ) malla – yamallu.
Buang air besar ( تَغَوَّطَ – يَتَغَوَّطُ) taghawwatha – yataghawwathu.
Buang air kecil ( بَالَ – يَبُوْلُ) baala – yabuulu.
Datang ( جَاءَ – يَجِيْءُ) jaa`a – yajii`u.
Diam ( سَكَتَ – يَسْكُتُ) sakata – yaskutu.
Duduk ( جَلَسَ – يَجْلِسُ) jalasa – yajlisu.
Habis ( اِنْتَهَى – يَنْتَهِي) intahaa – yantahii.
Hadir ( حَضَرَ – يَحْضُرُ) hadhara – yahdhuru.
Hilang ( ضَاعَ – يَضِيْعُ) dhaa’a – yadhii’u.
Ingat ( تَذَكَّرَ – يَتَذَكَّرُ) tadzakkara – yatadzakkaru.
Ingin ( أَرَادَ – يُرِيْدُ) araada – yuriidu.
Jujur ( صَدَقَ – يَصْدُقُ) shadaqa – yashduqu.
Kehilangan ( اِفْتَقَدَ – يَفْتَقِدُ) iftaqada – yaftaqidu.
Keliling ( دَارَ – يَدُوْرُ) daara – yaduuru.
Keluar ( خَرَجَ – يَخْرُجُ) kharaja – yakhruju.
Lulus ( نَجَحَ – يَنْجَحُ) najaha – yanjahu.
Lupa ( نَسِيَ – يَنْسَى) nasiya – yansaa.
Makan ( أَكَلَ – يَأْكُلُ) akala – ya`kulu.
Mampu ( اِسْتَطَاعَ – يَسْتَطِيْعُ) istathaa’a – yastathii’u.
Mandi ( اِسْتَحَمَّ – يَسْتَحِمُّ) istahamma – yastahimmu.
Masuk ( دَخَلَ – يَدْخُلُ) dakhala – yadkhulu.
Melarang ( نَهَى – يَنْهَى) nahaa – yanhaa.
Meletakkan ( وَضَعَ – يَضَعُ) wadha’a – yadha’u.
Melihat ( رَأَى – يَرَى) raa`a – yaraa.
Melukai ( جَرَحَ – يَجْرَحُ) jaraha – yajrahu.
Memahami ( فَهِمَ – يَفْهَمُ) fahima – yafhamu.
Memasak ( طَبَخَ – يَطْبَخُ) thabakha – yathbakhu.
Memasukkan ( أَدْخَلَ – يُدْخِلُ) adkhala – yudkhilu.
Membaca ( قَرَأَ – يَقْرَأُ) qara`a – yaqra`u.
Membagi ( قَسَمَ – يَقْسِمُ) qasama – yaqsimu.
Membangun ( بَنَى – يَبْنِي) banaa – yabnii.
Membangunkan ( أَيْقَظَ – يُوْقِظُ) ayqazha – yuuqizhu.
Membantu ( سَاعَدَ – يُسَاعِدُ) saa’ada – yusaa’idu.
Membawa ( حَمَلَ – يَحْمِلُ) hamala – yahmilu.
Membayar ( دَفَعَ – يَدْفَعُ) dafa’a – yadfa’u.
Membebaskan ( أَطْلَقَ – يُطْلِقُ) athlaqa – yuthliqu.
Membeli ( اِشْتَرَى – يَشْتَرِي) isytaraa – yasytarii.
Membenci ( كَرِهَ – يَكْرَهُ) kariha – yakrahu.
Memberikan ( أَعْطَى – يُعْطِي) a’thaa – yu’thii.
Membersihkan ( نَظَّفَ – يُنَظِّفُ) nazhzhafa- yunazhzhifu.
Membuang ( رَمَي – يَرْمِي) ramaa – yarmii.
Membuat ( صَنَعَ – يَصْنَعُ) shana’a – yashna’u.
Membuka ( فَتَحَ – يَفْتَحُ) fataha – yaftahu.
Membutuhkan ( اِحْتَاجَ – يَحْتَاجُ إلى) ihtaaja – yahtaaju ilaa.
Memerangi ( حَارَبَ – يُحَارِبُ) haaraba – yuhaaribu.
Memeriksa ( فَحَصَ – يَفْحَصُ) fahasha – yafhashu.
Memerintah ( أَمَرَ – يَأْمُرُ) amara – ya`muru.
Memilih ( اِخْتَارَ – يَخْتَارُ) ikhtaara – yakhtaaru.
Meminang ( خَطَبَ – يَخْطِبُ) khathaba – yakhthibu.
Meminta ( طَلَبَ – يَطْلُبُ) thalaba – yathlubu.
Memohon ( سَأَلَ – يَسْأَلُ) sa`aala – yas`alu.
Memotong ( قَطَعَ – يَقْطَعُ) qatha’a – yaqtha’u.
Memukul ( ضَرَبَ – يَضْرِبُ) dharaba – yadhribu.
Memulai ( بَدَأَ – يَبْدَأُ) bada`a – yabda`u.
Menambah ( زَادَ – يَزِيْدُ) zaada – yaziidu.
Menangis ( بَكَى – يَبْكِي) bakaa – yabkii.
Menanti ( اِنْتَظَرَ – يَنْتَظِرُ) intazhara – yantazihu.
Menasehati ( نَصَحَ – يَنْصَحُ) nashaaha – yanshahu.
Mencapai ( بَلَغَ – يَبْلُغُ) balagha – yablughu.
Mencari ( بَحَثَ – يَبْحَثُ) bahatsa – yabhatsu.
Mencicipi ( ذَاقَ – يَذُوْقُ) dzaaqa – yadzuuqu.
Mencintai ( أَحَبَّ – يُحِبُّ) ahabba – yuhibbu.
Menciptakan ( خَلَقَ – يَخْلُقُ) khalaqa – yakhluqu.
Mencium ( قَبَّلَ – يُقَبِّلُ) qabbalaa – yuqabbilu.
Mencoba ( جَرَّبَ – يُجَرِّبُ) jarraba – yujarribu.
Mencuci ( غَسَلَ – يَغْسِلُ) ghasala – yaghsilu.
Mencukur ( حَلَقَ – يَحْلِقُ) halaqa – yahliqu.
Mendekati ( اِقْتَرَبَ – يَقْتَرِبُ) iqtaraba – yaqtaribu.
Mendengar ( سَمِعَ – يَسْمَعُ) sami’a – yasma’u.
Mendidik ( رَبَّي – يُرَبِّي) rabbaa – yurabbii.
Menemukan ( وَجَدَ – يَجِدُ) wajada – yajidu.
Menerka ( خَمَّنَ – يُخَمِّنُ) khammana – yukhamminu.
Mengajar ( دَرَّسَ – يُدَرِّسُ) darrasa – yudarrisu.
Mengambil ( أَخَذَ – يَأْخُذُ) akhadza – ya`khudzu.
Mengangkat ( رَفَعَ – يَرْفَعُ) rafa’a – yarfa’u.
Mengejek ( اِسْتَهْزَأَ – يَسْتَهْزِئُ) istahza`a – yastahzi`u.
Mengeluarkan ( أَخْرَجَ – يُخْرِجُ) akhraja – yukhriju.
Mengerjakan ( فَعَلَ  – يَفْعَلُ) fa’ala – yaf’alu.
Mengetahui ( عَرَفَ – يَعْرِفُ) ‘arafa – ya’rifu.
Menggambar ( رَسَمَ – يَرْسُمُ) rasama – yarsumu.
Menggoreng ( قَلَا – يَقْلِي) qalaa – yaqlii.
Menghadap ( قَابَلَ – يُقَابِلُ) qaabala – yuqaabilu.
Menghibur ( سَلَّى – يُسَلِّي) sallaa – yusallii.
Menghitung ( حَسَبَ – يَحْسُبُ) hasaba – yahsubu.
Mengikuti ( اِتَّبَعَ – يَتَّبِعُ) ittaba’a – yattabi’u.
Mengingkari ( أَنْكَرَ – يُنْكِرُ) ankara – yunkiru.
Mengira ( ظَنَّ – يَظُنُّ) zhanna – yazhunnu.
Mengizinkan ( أَذِنَ – يَأْذَنُ) adzina – ya`dzanu.
Mengobati ( عَالَجَ – يُعَالِجُ) ‘aalaji – yu’aaliju.
Mengubah ( غَيَّرَ – يُغَيِّرُ) ghayyara – yughayyiru.
Mengulangi ( أَعَادَ – يُعِيْدُ) a’aada – yu’iidu.
Mengurangi ( نَقَصَ – يَنْقُصُ) naqasha – yanqushu.
Menikah ( تَزَوَّجَ – يَتَزَوَّجُ) tazawwaja – yatazawwaju.
Menimpa ( أّصَابَ – يُصِيْبُ) ashaaba – yushiibu.
Meninggalkan ( تَرَكَ – يَتْرُكُ) taraka – yatruku.
Meniru ( قَلَّدَ – يُقَلِّدُ) qallada – yuqallidu.
Menjauhi ( اِبْتَعَدَ – يَبْتَعِدُ) ibta’ada – yabta’idu.
Menjawab ( أَجَابَ – يُجِيْبُ) ajaaba – yujiibu.
Menjual ( بَاعَ – يَبِيْعُ) baa’a – yabii’u.
Menolong ( نَصَرَ – يَنْصُرُ) nashara – yanshuru.
Mentaati ( أَطَاعَ – يُطِيْعُ) athaa’a – yuthii’u.
Menulis ( كَتَبَ – يَكْتُبُ) kataba – yaktubu.
Menutup ( أَغْلَقَ – يُغْلِقُ) aghlaqa – yughliqu.
Menyalakan ( أَشْعَلَ – يُشْعِلُ) asy’ala – yusy’ilu.
Menyapu ( كَنَسَ – يَكْنُسُ) kanasa – yaknusu.
Menyelam ( ُغَاصَ – يَغُوْص) ghaasha – yaghuushu.
Menyelisihi ( خَالَفَ – يُخَالِفُ) khaalafa – yukhaalifu.
Menyeterika ( كَوَى – يَكْوِي) kawaa – yakwii.
Menyiram ( سَقَى – يَسْقِي) saqaa – yasqii.
Menyusul ( لَحِقَ – يَلْحَقُ) lahiqa – yalhaqu.
Merapihkan ( رَتَّبَ – يُرَتِّبُ) rattaba – yurattibu.
Merasakan ( شَعَرَ – يَشْعُرُ) sya’ara – yasy’uru.
Merekam ( سَجَّلَ – يُسَجِّلُ) sajjala – yusajjilu.
Minum ( شَرِبَ – يَشْرَبُ) syariba – yasyrabu.
Naik ( صَعِدَ – يَصْعَدُ) sha’ida – yash’adu.
Pergi ( ذَهَبَ – يَذْهَبُ) dzahaba – yadzhabu.
Pulang ( رَجَعَ – يَرْجِعُ) raja’a – yarji’u.
Sakit ( مَرِضَ – يَمْرَضُ) maridha – yamridhu.
Sampai ( وَصَلَ – يَصِلُ) washala – yashilu.
Sedih ( حَزِنَ – يَحْزَنُ) hazina – yahzanu.
Shalat ( صَلَّى – يُصَلِّي) shallaa – yushallii.
Sisa/Tinggal ( بَقِيَ – يَبْقَى) baqiya – yabqaa.
Sombong ( تَكَبَّرَ – يَتَكَبَّرُ) takabbara – yatakabbaru.
Takjub ( تَعَجَّبَ – يَتَعَجَّبُ) ta’ajjaba – yata’ajjabu.
Terbang ( طَارَ – يَطِيْرُ) thaara – yathiiru.
Terkenal ( اِشْتَهَرَ – يَشْتَهِرُ) isytahara – yasytahiru.
Tersebar ( اِنْتَشَرَ – يَنْتَشِرُ) intasyara – yantisyiru.
Tertawa ( ضَحِكَ – يَضْحَكُ) dhahika – yadh-haku.
Tidur ( نَامَ – يَنَامُ) naama – yanaamu.
Turun ( نَزَلَ – يَنْزِلُ) nazala – yanzilu.

Dari 300 Lebih kosakata bahasa Arab sehari-hari yang ada, berapakah yang sudah Anda hafal?

Semoga bisa bermanfaat. Atas segala kekurangan mohon dimaafkan, dan terima kasih atas kunjungannya, wa jazaakumullahu khairan.

Kata Mutiara Islami Syukur Alhamdulillah

Bersyukur itu bukan hanya karena semuanya baik-baik saja, tapi juga karena selalu ada sisi baik di balik semua yang terjadi.

Syukur adalah sebuah ungkapan rasa berterimakasih kita kepada Allah swt yang telah memberikan kita berbagai anugerah dan kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya. Allah sendiri menjanjikan bagi siapa saja yang mau bersyukur, maka Allah akan menambah nikmatnya. Namun sebaliknya, jika seseorang kufur (mengingkari nikmat), maka Allah memperingatkan orang tersebut bahwa adzab-Nya sangatlah pedih (QS. Ibrahim: 7).

Sebagai hamba Allah, sudah sepantasnya kita selalu mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada kita, apapun bentuknya itu. Dengan banyak bersyukur, manusia akan menyadari segala kelemahan diri dan kekurangannya di hadapan Allah. Dan bila kita mau jujur, sungguh nikmat yang telah Allah berikan tak terhitung jumlahnya. Mulai sejak masih dalam kandungan hingga sekarang, nikmat Allah terus mengalir tanpa henti. Dari mulai bangun tidur hingga beranjak tidur kembali, nikmat Allah selalu tercurah. Saking begitu banyaknya, mustahil bagi kita untuk menghitung nikmat-Nya.

Sayangnya, seringkali kita saksikan sebagian orang melupakan perkara penting ini. Maka muncullah orang-orang dengan karakter sombong dan tamak, karena mereka telah lupa akan peran Allah di balik setiap nikmat yang mereka peroleh.

Karena itu, sangat penting bagi kita untuk selalu membiasakan diri bersyukur atas segala nikmat yang kita peroleh. Jangan sampai kita menjadi bagian dari golongan manusia yang lupa diri dan tidak tahu berterima kasih kepada Allah. Karena kita bukanlah siapa-siapa tanpa Allah.

Cobalah melihat

When you see a person who has been given more than you in money and beauty, look to those who have been given less. – Hadits

Ketika kamu melihat seseorang yang diberi kelebihan harta dan keindahan rupa, maka cobalah untuk melihat kepada mereka yang diberi lebih sedikit. – Hadis

Tingkatan tertinggi

Know that thankfulness is from the highest of stations, and it is higher than patience, and fear, and detachment of the world. – Imam al-Ghazali

Ketahuilah bahwa rasa syukur merupakan tingkatan tertinggi, dan ini lebih tinggi daripada kesabaran, ketakutan (khauf), dan keterpisahan dari dunia (zuhud). – Imam al-Ghazali

Kehilangan rasa syukur

We just look at the one time we were sick and forget the 99 times we were healthy. When we lose our shukr, we lose our sifaat of imaan. – Sheikh Kamaluddin Ahmed

Seringkali kita hanya melihat satu waktu saat kita sakit dan melupakan 99 kali saat kita sehat. Kapan saja kita kehilangan rasa syukur, maka kita akan kehilangan sifat iman kita. – Sheikh Kamaluddin Ahmed

Syukur penambah nikmat

If you are grateful, I will surely increase you [in favor]; but if you deny, indeed, My punishment is severe. – QS. Ibrahim: 7

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, namun jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih. – QS. Ibrahim: 7

Rahasia bahagia

Secret to happiness is in 3 things: sabr, shukr and ikhlas.

Rahasia kebahagiaan itu ada dalam 3 hal: Bersabar, Bersyukur dan ikhlas.

Tak akan pernah bahagia

Happiness will never come to those who fail to appreciate what they already have.

Kebahagiaan tidak akan pernah sampai kepada mereka yang gagal menghargai apa yang sudah mereka miliki.

Dua bagian iman

Iman is of two halves: Half is patience (Sabr), and half is being thankful (Shukr). – Ibn Qayyim al-Jawziyyah

Iman terdiri dari dua bagian: Setengahnya adalah kesabaran (Sabr), dan setengahnya lagi adalah bersyukur (Shukr). – Ibn Qayyim al-Jawziyyah

Alhamdulillah

There’s always more to thank for than to complain about. Alhumdulillah.

Selalu ada lebih banyak hal yang patut untuk disyukuri daripada mengeluh. Alhamdulillah.

Pikirkanlah

Don’t think of the things you didn’t get after praying. Think of the countless blessings God gave you without asking.

Jangan memikirkan hal-hal yang tidak kamu dapatkan setelah berdoa. Pikirkanlah nikmat yang tak terhitung jumlahnya yang Allah berikan kepadamu tanpa kamu memintanya.

Balasan Allah

and Allah will give reward to those who are grateful. – QS. Ali Imran: 144

dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. – QS. Ali Imran: 144

Supaya kamu bersyukur

It is He Who brought you forth from the wombs of your mothers when ye knew nothing; and He gave you hearing and sight and intelligence and affections: that ye may give thanks (to Allah). – An-Nahl: 78

Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. – An-Nahl: 78

Bersyukurlah

If Allah gave you just a piece of bread, have it with shukr, because Allah didn’t make you beg to others for it.

Jika Allah memberi kamu nikmat sepotong roti saja, syukurilah itu, karena Allah tidak membuat kamu meminta-minta kepada orang lain untuk mendapatkan itu.

Bukan sebatas ucapan

Being grateful is not just an act of saying Alhamdulillah. Being grateful is an attitude. It’s a lifestyle. It’s a way of thinking. You’re constantly grateful. – Nouman Ali Khan

Bersyukur bukan hanya sebatas ucapan Alhamdulillah. Bersyukur adalah sikap. Itu adalah gaya hidup. Itu adalah cara berpikir. Teruslah bersyukur. – Nouman Ali Khan

Sudahkah bersyukur?

If we don’t feel grateful for what we already have, what makes us think we’d be happy with more?

Jika kita saja tidak merasa bersyukur atas apa yang sudah kita miliki, lalu apa yang membuat kita berpikir bahwa kita akan bahagia dengan memiliki yang lebih banyak?

Apapun kondisimu

No matter how good or bad your life is, wake up each morning and be thankful that you still have one.

Tak peduli seberapa baik atau buruknya hidupmu, bangunlah setiap pagi dan bersyukurlah bahwa kamu masih memilikinya.

Pandai bersyukur

Tidak ada kalimat “semua akan indah pada waktunya”, karena setiap hari pun semuanya terlihat indah jika kita pandai bersyukur.

Membuat kita bahagia

Bukan kebahagiaan yang menjadikan kita bersyukur, tapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia.

Hidup bahagia

Mimpi membuat hidup bergairah, bersyukur membuat hidup bahagia.

Bertambah

Rasa syukur akan menambahkan nikmat yang sedikit, dan akan melipatgandakan sesuatu yang banyak.

Jiwa yang bersyukur

Jiwa yang malas, tetap tersesat walau sudah sampai. Jiwa yang tamak, tetap mengeluh di atas kekayaan. Jiwa yang bersyukur, akan berbahagia bahkan di atas masalah sekalipun.

Di mana syukur kita?

Banyaknya nikmat Allah yang kita lupakan tetapi ujian-Nya yang sedikit yang kita hiraukan. Di manakah syukur kita? sedangkan ujian itu juga adalah salah satu rahmat dan tanda kasih sayang Allah kepada kita.

Manusia yang lalai

Ciri kelalaian manusia adalah sering mengeluh ketika sedang diuji dan jarang bersyukur ketika mendapatkan nikmat.

Mensyukuri yang sedikit

Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak. (HR. Ahmad)

Syukur dan sabar

Gunakanlah syukur ketika engkau dicintai, dan gunakan sabar ketika engkau dibenci.

Ketenangan hidup

Ingin hidup tenang? latihlah hatimu bersabar dan bersyukur.

Menggapai kebahagiaan

Cara yang paling sederhana untuk mencapai kebahagiaan adalah bersyukur dengan apa yang telah engkau miliki.

Kesempatan untuk berbenah

Bersyukurlah jika Allah memberimu ujian hidup, karena dengan demikian, Allah memberikanmu kesempatan untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Menikmati hidup

Orang yang bersyukur adalah orang yang tahu cara menikmati hidup.

Cara terbaik

Bersyukur adalah cara terbaik untuk bahagia, dan mengeluh adalah cara terburuk dalam menikmati hidup.

Jalan keluar

Orang yang ikhlas dan pandai bersyukur akan selalu mendapat jalan keluar dari setiap masalah.

Bersyukurlah

Hidup yang sering kau keluhkan, bisa jadi adalah hidup yang orang lain inginkan. Bersyukurlah mulai dari sekarang.

Selalu bersyukur

Jangan dilepaskan dari tangan barang yang telah ada, karena mengharapkan barang yang jauh. Seorang mukmin mensyukuri nikmat yang telah ada dalam tangannya dan menerima dengan mensyukuri bilamana mendapatkan tambahan lagi. – HAMKA

Dua ujian

Tidaklah ada dari manusia melainkan: diuji dengan keselamatan agar diketahui bagaimana syukurnya, atau diuji dengan sebuah bencana agar diketahui bagaimana sabarnya. – Ibnu Qayyim

Belajar bersyukur

Belajarlah mengucap syukur dari hal-hal baik di hidupmu, belajarlah menjadi kuat dari hal-hal buruk di hidupmu.

Hadapi dan terima

Hadapilah semua nikmat dengan rasa syukur, dan terimalah semua musibah dengan rasa sabar.

Bagai dua sayap

Syukur dan sabar itu seperti sayap. Sayap sebelah kanan adalah syukur, sayap sebelah kiri adalah sabar. Jika patah salah satunya, maka jatuhlah kita. – HAMKA

Sederhana

Sederhanakan syarat kita untuk berbahagia, maka hal sekecil apapun mampu membesarkan rasa syukur.

Merasa cukup

Jangan merasa kurang, jangan merasa lebih. Namun merasa cukup, dengan cukup menjadikan diri kita pribadi yang bersyukur.

Selalu bisa bahagia

Hidup tak selalu sempurna. Yang terjadi tak selalu kita suka. Tapi kita bisa selalu bahagia, dengan cara mensyukuri yang ada.

Menjadi mudah

Mengeluh hanya akan membuat hidup kita semakin tertekan, sedangkan bersyukur akan senantiasa membawa kita pada jalan kemudahan.

Selalu ada kebaikan

Bersyukur itu bukan hanya karena semuanya baik-baik saja, tapi juga karena selalu ada sisi baik di balik semua yang terjadi.

Menikmati hidup

Begitu banyak orang hanya bisa bermimpi memiliki yang kamu miliki. Syukuri apa yang ada padamu. Menikmati hidup bukan soal memiliki segalanya, tapi terus berusaha sambil tetap menikmati apa yang ada padamu.

Berhenti sejenak

Ada hari di mana kita harus berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, dan mensyukuri apa yang didapat hari ini.

Terasa berat

Hidup akan begitu berat bagi mereka yang selalu mengeluh dan bagi mereka yang lupa untuk bersyukur.

Sukses

Jangan menunggu sukses dulu baru bersyukur, bersyukurlah maka sukses itu pasti akan datang.

Mengingat nikmat

Jangan pernah menghitung apa yang telah engkau berikan, tapi ingatlah apa saja yang telah kau terima.

Kebahagiaan

Ya Allah, berilah aku kebahagiaan yang cukup untuk membuatku tersenyum. Kebahagiaan yang mampu membuat aku bersyukur kepada-Mu.

Nikmat

Jangan kau risaukan nikmat yang belum kau miliki, risaukanlah nikmat yang belum kau syukuri.

Menikmati hidup

‘Syukur’ menyadarkan kita akan arti pentingnya menikmati kehidupan, seburuk apapun keadaannya.

Sebanyak-banyaknya

Bahagia secukupnya, bersedih seperlunya, bersyukur sebanyak-banyaknya.

Bersyukur setiap saat

Bersyukurlah setiap hari untuk nafas, kesehatan, makanan, pekerjaan, keluarga, kerabat dan semuanya yang anda miliki sampai hari ini. Karena mungkin apa yang anda miliki hari ini adalah mimpi dari orang lain yang belum sehebat anda. Jadi, sudah bersyukurkah anda hari ini?

Air dan minyak

Orang yang bersyukur tak sempat untuk bersedih, karena ia bagaikan air dan minyak.

Tidak mudah mengeluh

Ya Allah, ingatkan kami untuk selalu berjuang sebelum menyerah, bersyukur sebelum mengeluh, dan ikhlas atas segala ketetapan-Mu.

Hal sederhana

Bahagia bukan milik dia yang hebat dalam segalanya, namun dia yang mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur.

Memandang kekurangan

Kekurangan yang dihadapi dengan penuh rasa syukur akan menjadi hal yang berlimpah di kemudian hari.

Kunci bahagia

Kunci dari segala kebahagiaan adalah bersyukur. Jika banyak ia bersyukur, jika sedikit ia juga bersyukur. Sehingga tak ada celah bagi kesedihan.

Benih putus asa

Benih-benih keputusasaan tak akan mampu berakar di hati orang yang penuh rasa syukur.

Sekalipun kecil

Bersyukurlah kepada Allah, bahkan untuk pemberian terkecil sekalipun.

Yang sudah dimiliki

Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang telah kamu miliki saat ini. Bersyukurlah.

Sederhanakan

Sederhanakan syarat kita untuk berbahagia. Maka hal sekecil apapun mampu membesarkan rasa syukur.

Nikmat yang menjadi siksa

Sesungguhnya Allah memberikan nikmat pada siapa saja yang Dia kehendaki. Jika seseorang tidak bersyukur, nikmat tersebut malah berubah menjadi siksa. – (Hasan Al-Bashri, ‘Iddatus Shabirin: 148)

Terlalu jauh memandang

Kadang kita memandang terlalu jauh tentang kebahagiaan pada apa yang orang lain capai, orang lain punya, orang lain lakukan. Padahal kebahagiaan itu dekat, ada dalam dada kita, dalam hati yang bersyukur.

Untuk disyukuri

Pagi itu tidak untuk dinikmati, tapi untuk disyukuri. Sebab syukur pasti berbuah nikmat, namun menikmati belum tentu bersyukur.

Menikmati pagi

Aku bersyukur masih menjumpai pagi. Walau belum tahu apa yang akan ku lakukan hari ini, aku tetap mensyukuri. Setidaknya aku tahu bahwa Allah masih menyayangiku. Aku yakin masih ada rezeki dan banyak kebaikan untukku. Sementara ini, biarlah ku nikmati pagiku. Semoga ini bukan pagi terakhirku.

Makna Ucapan Assalamualaikum

Berdasarkan makna ini, ketika ada seorang muslim mengucapkan “Assalamu alaikum” kepada muslim yang lain, berarti dia mendoakan, ‘Semoga keselamatan bersama kalian…”

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Setiap ucapan, jika diiringi dengan pemahaman terhadap maknanya, akan memberikan pengaruh yang lebih. Terlebih ketika ucapa itu bentuknya doa. Karena itulah, diantara ketentuan doa yang mustajab adalah doa yang dibaca dengan hati yang sadar, memahami apa yang dia minta, dan diiringi harapan besar kepada Dzat yang diminta. Sebaliknya, doa yang dilantunkan dengan hati yang lalai, yang tidak memahami apa yang diucapkan dalam doa, bisa menjadi sebab doa itu tertolak.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

Berdoalah dengan disertai keyakinan akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengijabahi doa dari orang yang hatinya lalai. (HR. Turmudzi 3816dan dihasankan al-Albani)

Diantara doa yang kurang kita perhatikan maknanya adalah ucapan salam. Sehingga banyak orang menyampaikan salam, namun terkesan tidak serius. Sehingga yang terdengar bukan bunyi assalamu alaikum, tapi kadang slamlekum, atau bahkan hanya mlekum atau kalimat salam yang pengucapannya terlalu cepat…

Agar salam yang kita baca lebih dahsyat pengaruhnya, mari kita lihat makna dari kalimat ini lebih dekat. Terutama untuk penggalan pertama, Assalamu ‘alaikum [السلام عليكم],

Dalam Fathul Majid dinyatakan,

السلام اسم مصدر. وهو من ألفاظ الدعاء. يتضمن الإنشاء والإخبار، فجهة الخبر فيه لا تناقض الجهة الإنشائية

Assalam adalah isim masdar (kata dasar), dan termasuk lafadz doa, mengandung makna insya’ (pernyataan yang memiliki tujuan) dan khabar (pernyataan berita). Sisi makna khabar tidak bertentangan dengan makna insya’.

Kemudian beliau menyebutkan khilaf ulama mengenai makna salam. Di sana ada beberapa pendapat yang masyhur,

[1] As-Salam adalah Allah, karena salah satu nama Allah adalah as-Salam

Seperti yang ditunjukkan dalam firman-Nya,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Sang Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Salam, Yang Mengaruniakan Keamanan … (QS. al-Hasyr: 23).

Dan makna nama Allah as-Salam adalah Allah terbebas dari semua kekurangan dan kesamaan dengan makhluk namun Dialah Dzat yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan.

Berdasarkan makna ini, ketika ada seorang muslim mengucapkan “Assalamu alaikum” kepada muslim yang lain, berarti dia mendoakan, ‘Semoga Allah Dzat as-Salam bersama kalian, sehingga rahmat dan keberkahannya, turun kepada kalian.’

[2] As-Salam merupakan isim masdar yang artinya as-Salamah (keselamatan). Karena itu, bisa dibaca dengan makrifat (ada alif lam di depan), yaitu “Assalamu”, dan bisa juga dibaca dengan nakirah (tanpa ada alif lam di depan), yaitu Salamun.

Berdasarkan makna ini, ketika ada seorang muslim mengucapkan “Assalamu alaikum” kepada muslim yang lain, berarti dia mendoakan, ‘Semoga keselamatan bersama kalian…”

Baik makna yang pertama maupun kedua, ucapan salam dipahami sebagai kalimat doa dan itu kalimat insya’.

[3] Seperti makna kedua, as-Salam diartikan dengan keselamatan. Hanya saja berstatus seperti berita (khabar).

Sehingga ketika  seorang muslim mengucapkan “Assalamu alaikum” kepada muslim yang lain, dia memberitakan bahwa anda (yang diberi salam) saat ini sedang dalam kondisi selamat.

Karena itu, dianjurkan dalam salam, agar orang yang datang memberi salam kepada orang yang sedang diam. Untuk menyampaikan informasi bahwa anda (orang yang diam) dalam kondisi selamat dan saya datang tidak untuk mengganggu anda.

Dan kesemua makna di atas itu benar, sehingga salam yang kita ucapkan mencakup semua makna di atas.

Demikian, Allahu a’lam.

Arti Na’am

Lafazh na’am artinya ya atau iya. 

Lafazh na’am ukhti artinya ya saudaraku. Maksud saudaraku di sini khusus untuk saudara perempuan. Dari jawaban seorang anggota remaja masjid tadi menunjukkan mengiyakan atas pertanyaan yang diajukan. Demikian jawaban singkat kami. Wallahu a’alam.

Saya mengikuti perbincangan teman-teman satu masjid. Kami semua membahas bagaimana mengatur jadwal pengisi ceramah, adzan dan juga kebersihan di dalam masjid. Seluruh remaja masjid dikumpulkan seluruhnya untuk dimintai kesediaan dalam melaksanakan tugasnya. Maka setiap dari mereka ditanyai satu per satu. Salah satu dari anggota remaja masjid itu ketika ditanya menjawab na’am ukhti. Yang mau saya tanyakan adalah na’am ukhti artinya apa ya Pak? Terima kasih atas jawabannya.

Jawab :

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Cerita anda sangatlah menyenangkan bagi para orang tua di lingkungan masjid tersebut. Tatkala para remaja muslim giat pergi ke masjid. Maka orang tua dan masyarakat di lingkungan masjid itu akan bergembira. Memang para remaja harus menjadi orang yang terdepan dalam memakmurkan masjid. Merekalah yang menjadi generasi penerus orang tua. Maka sangatlah tepat bila mereka dikumpulkan ke masjid untuk diajak berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Diantara contoh kegiatan itu antara lain membersihkan masjid maupun lingkungannya, mengisi ceramah agama, melakukan adzan,  dan lain sebagainya.

Lafazh na’am artinya ya atau iya.

Lafazh na’am ukhti artinya ya saudaraku. Maksud saudaraku di sini khusus untuk saudara perempuan. Dari jawaban seorang anggota remaja masjid tadi menunjukkan mengiyakan atas pertanyaan yang diajukan. Demikian jawaban singkat kami. Wallahu a’alam.

Muslimah Jatuh Cinta

Pernikahan adalah solusi Islami dalam mengobati cinta membara bila memang memungkinkan dan membawa maslahat bagi keduanya. Namu ketika mereka tak mampu menikah maka tak ada alasan untuk mencintainya lagi. Biarlah si virus merah jambu itu pergi. Yakinlah barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Hanya cinta yang menuntun pada kebaikan dan ketaqwaan itulah cinta hakiki.

Jatuh cinta, berjuta rasanya! Benarkah? Orang yang tengah dilanda asmara mungkin akan lihai bersyair “Cintaku padamu seluas angkasa yang biru padamu seluas angkasa yang biru padamu seluas angkasa yang biru rinduku padamu sedalam lautan Atlantik, kasih suci seputih melati, atau jangankan ke Ethopia ke kutub utara aku ikut kamu!!” Sebuah kata-kata yang hiperbol. Seorang penyair berkata, “Demi Allah tidaklah cinta menawan orang yang dimabuk cinta melainkan ia akan membelah jiwanya”.

Cinta, sebuah kata singkat yang sangat abstrak dalam kehidupan manusia. Banyak beredar kisah dan cerita yang populer seperti legendaris Romeo dan Juliet.

Cinta mengharukan antara Qais dengan Laila, yang konon katanya jadi lambang cinta yang suci. Semudah itukah kita percaya bahkan turut bersimpati dan memberi apresiasi pada mereka? Padahal mereka tak terikat dalam bingkai syari’at.

Bila hati terlanjur jatuh cinta sebagaimana hadits,

حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ

“Kecintaan kepada sesuatu bisa membuat buta dan tuli”

Dalam sebuah syair diungkapkan:

Aku tak tahu apakah pesonanya yang memikat atau mungkin akalku yang tak lagi ditempat.

Dalam Al Qur’an juga dijelaskan tentang cinta membara istri Al-Aziz terhadap Yusuf dan kaum Luth yang menyukai anak laki-laki yang tampan.

Pernikahan adalah solusi Islami dalam mengobati cinta membara bila memang memungkinkan dan membawa maslahat bagi keduanya. Namu ketika mereka tak mampu menikah maka tak ada alasan untuk mencintainya lagi. Biarlah si virus merah jambu itu pergi. Yakinlah barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Hanya cinta yang menuntun pada kebaikan dan ketaqwaan itulah cinta hakiki.

Cinta dalam koridor pernikahan adalah cinta yang romantis, dewasa lagi berkualitas. Thawus berkata dari Ibnu Abbas, “ Tidak ada yang bisa dilihat ( lebih indah oleh) orang-orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan”. Cinta karena-Nya jauh lebih indah dari cerita orang-orang tentang manisnya cinta ala Romy dan Yuli. Karena itu, jagalah hatimu hanya untuk kekasih sejatimu. Cinta bukan sekedar keindahan yang nampak di mata, namun cinta adalah yang menyatukan hati dan jiwa.

Anda belum pernah terpanah cinta yang penuh racun berbisa? Tak perlu risau, bersyukurlah! Karena Anda terbebas dari derita lantaran cinta. Dia akan datang menyapa ketika telah tiba saatnya. Lima puluh ribu tahun sebelum semesta ini ada, telah ditaqdirkannya. Dialah pendamping hati, teman seperjalanan dalam menjemput diri meniti jejak cinta Adam dan Hawa.

Wahai Rabbi izinkan hamba-Mu untuk selalu mencintai-Mu.

Muslimah Jangan Genit

Banyak becanda dengan ikhwan. Padahal, ini dapat menyebabkan virus merah jambu atau VMJ dan merusak hati.

Alhamdulillah saat ini banyak muslimah yang sudah berhijrah. Sudah mengetahui bahwa memakai kerudung adalah wajib hukumnya serta memakai yang sesuai syariat.

Namun, masih banyak muslimah yang sudah berjilbab lebar nan syar’i tapi pergaulan dengan lawan jenis diluar koridor. Sehingga muslimah tersebut bisa dikatakan muslimah yang genit.

Lantas, bagaimana ciri muslimah yang seperti itu? Berikut adala ciri-cirinya :

1. Berpakaian yang mengundang pandangan. Ia memakai jilbab, namun jilbab dan busana muslimah yang digunakannya dibuat sedemikian rupa agar menggoda pandangan para ikhwan.

2. Senang dilihat. Mereka bersemangat mencari-cari perhatian ikhwan, sering membuat sensasi-sensasi yang memancing perhatian ikhwan dan suka berjalan melewati kerumunan ikhwan.

3. Kata-kata mesra yang ‘Islami’. Tentu saja kata-kata mesranya berbeda dengan gaya orang pacaran, namun mereka menggunakan gaya bahasa Islami, seperti “Jazakallah yah akhi”

4. SMS tidak penting. Hal ini menurutnya lebih aman karena tidak diketahui oleh orang lain. Biasanya akan SMS menanyakan kabar, mengingatkan shalat malam, dan hal lainnya.

5. Banyak becanda dengan ikhwan. Padahal, ini dapat menyebabkan virus merah jambu atau VMJ dan merusak hati.

6. Tidak khawatir terjadi ikhtilat (campur baur ikhwan-akhwat). Bisa jadi ada saat dimana kita tidak bisa menghindari khalwat dan ikhtilat. Namun seharusnya saat berada pada kondisi tersebut seorang mukmin yang takut pada azab Allah sepatutnya memiliki rasa khawatir jika berlama-lama ada dalam kondisi itu.

7. Berbicara dengan nada mendayu. Gaya bicara seperti ini dapat menimbulkan ‘bekas’ pada hati laki-laki yang mendengarnya. Padahal Allah telah melarangnya dalam Al Qur’an: “Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” ( Q.S. Al Ahzab: 32).

Wahai muslimah, hindarilah dirimu dari perbuatan-perbuatan di atas. Sebab wanita adalah fitnah terbesar untuk laki-laki. Bantu laki-laki untuk menundukkan pandangannnya dengan tidak melakukan hal-hal seperti itu.

Mualaf – Komik Islami

Sebagian mualaf memang bikin iri. Mereka datang belakangan, tapi totalitasnya pada Islam begitu tinggi.
.
Sebut saja misalnya Syaikh Yusuf Estes. Di agama lamanya, beliau adalah seorang pendakwah. Begitu memeluk Islam, ghirah dakwahnya tak berubah. Beliau serius menuntut ilmu dan berusaha menyelami imannya secara kafah. Mungkin, seperti itulah mestinya hijrah.
.
Syaikh Yusuf Estes merupakan salah satu dari sekian orang yang mendapat hidayah karena serius mencari. Bukan sekadar pindah agama karena iming-iming duniawi. Sebab, sebelum menjadi muslim, beliau hidup berkecukupan dan disegani. Bukan pula karena ingin menikahi gadis pujaan hati. Apalagi hanya karena sebungkus dua bungkus mie. .
.
Menyimak kisah pencariannya menjadi charger bagi diri. Kita yang sejak lahir tahu-tahu sudah muslim ini mungkin tak terlalu menyadari betapa kita sesungguhnya telah mendapat nikmat yang besar sekali. Mungkin karena tak perlu susah-susah mencari, kita cenderung menjadi abai. Menganggap agama tak lebih dari formalitas birokrasi. Bahkan beban yang selalu diratapi.
.
Syaikh Yusuf Estes hidup di Amerika. Kita tahu, liberalisme dan materialisme tumbuh subur di sana. Tapi, itu tak lantas membuatnya silau dan gelap mata. Beliau sungguh-sungguh mencari kebenaran hingga hidayah pun meneranginya.
.
Syaikh tidak berhenti sampai di situ. Beliau selami samudra ilmu. Kemudian aktif mendakwahkan tauhid yang diyakininya. Tak terhitung berapa banyak orang masuk Islam lewat ajakannya.
.
Bagaimana dengan kita? Semoga kita bukan termasuk orang yang durhaka. Konon punya Al Qur’an tapi jarang dibaca. Apalagi dipahami maknanya. Tahu-tahu berani mengkritisi isinya yang konon dianggap tak lagi relevan dengan perkembangan dunia. .